Selasa, 18 Desember 2007

Perjuangkan kenaikan gaji PRT Asing di Hong Kong!

Pernyataan Sikap ATKI-HK
Dalam Perayaan Hari Migran Internasional

Perjuangkan kenaikan gaji PRT Asing di Hong Kong!Pada tahun 1990, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan 18 Desember sebagai Hari Migran Internasional. Pengesahan tanggal ini bersamaan dengan pengesahan Konvensi Perlindungan bagi Buruh Migran dan Keluarganya. Konvensi atau kesepakatan ini berisi hak-hak yang harus diterima oleh buruh migran termasuk hak untuk bekerja, untuk tinggal dan untuk pergi.


Tapi adanya Konvensi ini tidak berarti telah menjamin hak-hak buruh migran akan otomatis dipenuhi. Perlindungan dan penegakan terhadap hak-hak buruh migran tidak akan pernah terwujud jika buruh migran tidak memperjuangkannya.

Sebagai buruh migran yang bekerja di sektor pembantu rumah tangga, kita benar-benar merasakan perlakuan diskriminatif pemerintah Hong Kong terhadap kita. Berbagai kebijakan dan peraturanpun sengaja dibuat untuk mengingkari hak-hak yang seharusnya kita dapatkan.

Setiap hari jam kerja kita sangat panjang, yaitu antara 16-20 jam per hari dan 24 jam siap panggil. Hal ini diperparah sejak pemerintah menghapus ijin tinggal luar bagi pembantu asing tahun 2003, yang artinya kita dipaksa untuk tinggal di rumah majikan dengan akomodasi ala kadarnya. Sementara gaji yang kita terima amat minim dan kapanpun krisis menghantam Hong Kong, gaji kita selalu dikorbankan terlebih dahulu.

Tahun 2003, pemerintah Hong Kong memotong gaji kita sebanyak HK$400, dari HK$3670 menjadi HK$3270, dan menerapkan pajak sebesar HK$400/bulan untuk menutupi keuangan negara yang sedang defisit. Meski perekonomian Hong Kong mulai pulih sejak tahun 2004 dan gaji buruh lokal telah dikembalikan ke tingkat semula, pemerintah sama sekali tidak berniat menaikan gaji pembantu asing sebab pemerintah tetap menginginkan pajak dari gaji kita.

Berkat perjuangan tiada henti kita, pemerintah Hong Kong terpaksa menaikan gaji pembantu asing dengan cara mengangsur. Tapi gaji minimum HK$3480 saat ini masih belum memenuhi tuntutan kita yaitu minimal kembali ke tingkat HK$3670. Kita tidak akan berhenti berjuang sampai tuntutan kita dipenuhi.

Disisi lain, pembantu asing harus dibelenggu oleh kebijakan two week rule (aturan 2 minggu visa) yang memaksa kita untuk meninggalkan Hong Kong dalam waktu 14 hari setelah finish kontrak atau di-PHK. Akibatnya, banyak pembantu asing yang terpaksa bertahan dalam kondisi kerja yang tidak manusiawi demi menyelesaikan kontrak 2 tahun. Dibawah peraturan two week rule ini, pembantu asing juga tidak diijinkan ganti majikan tanpa alasan yang memenuhi kriteria imigrasi.

Berbeda dengan buruh migran yang bekerja di sektor lain, pembantu rumah tangga asing tidak akan pernah diijinkan untuk menjadi residen Hong Kong meski sudah bekerja lebih dari 7 tahun. Rancangan undang-undang anti diskriminasi yang sedang dalam perdebatan juga menolak memasukan departemen imigrasi.

Persoalan-persoalan inipun didiskusikan di Konferensi Pertama Buruh Migran Asia di Hong Kong yang diselenggarakan pada tanggal 25 Nopember kemarin. Lebih dari 100 orang pimpinan organisasi dari Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Nepal, dan Thailand berkumpul untuk mencari pemecahan dan tuntutan kepada pemerintah Hong Kong.

Di hari yang bersejarah ini, mari kita ramaikan jalan-jalan di Hong Kong dengan suara dan tuntutan kita. Di hari migran internasional kali ini, mari kita ikrarkan komitmen, keteguhan dan persatuan kita untuk meneruskan perjuangan demi hak-hak dan penghidupan kita.

Hong Kong, 18 Desember 2007

ATKI-HK

Assosiasi Tenaga Kerja Indonesia Hong Kong
c/o: APMM, Jordan road no. 2, Kowloon, Hong Kong SAR
phone: +852 23147316 Fax: +852 27354559
blog: http://atkihongkong.blogspot.com

Rabu, 12 Desember 2007

Urgent Call for International Solidarity

Migrants’ Trade Union Leadership Arrested on November 27th.

Stop the Repression against KCTU affiliate Migrants’ Trade Union!

Free President Kajiman and other Imprisoned Union Officers!

Stop the Crackdown and Deportations!

1. Background

On the morning of November 27, MTU President Kajiman, Vice President Raju and General Secretary Masum were arrested, in what was clearly a targeted crackdown against the leadership of MTU. We, the KCTU and the Seoul-Gyeonggi-Incheon Migrants’ Trade Union call on the international labor and human rights community to do whatever in their power to secure the release of the MTU leadership and end this labor repression against MTU.

At roughly 9:20am on November 27, President Kajiman was leaving his home in order to attend a plan protest in front of Seoul Immigration Office when he was confronted by more than 10 immigration officers who had been hiding in front of his house. The immigration officers restrained the Korean activist with President Kajiman and then encircled the president. After protesting strongly, President Kajiman was eventually arrested, his shoulder hurt in the process.

General Secretary Masum also left his house the morning of the 27 in order to attend the protest in front of Seoul Immigration. As he walked down the street he was passed by four 4 large men who were laughing amongst themselves. He originally did not pay attention to them; however, immediately after roughly 10 immigration officers came up from behind him. He was suddenly surrounded by nearly 20 people and despite protesting was eventually arrested. At roughly the same time Vice President Raju was confronted by 4 immigration officers in front of the factory where he worked. Upon seeing the vice president, the immigration officers immediately attempted to handcuff him, but failed due to his forceful protest. When Vice President Raju demanded to see

the officers’ identification cards, they presented them along with a prepared detention order. Despite his protests the vice president was also eventually arrested.

Soon after all three men were sent to a detention center in Cheongju, Northern Choongjeong Provience, south of the capital Seoul.

2. Clear Labor Repression

The simultaneous arrest of three MTU leaders, is a clearly a targeted attack, planed in timing with an intensification of the crackdown against undocumented migrants in South Korea. Since the beginning of August of this year, the government has carried out a mass-scale crackdown in an attempt to reduce the number of undocumented migrants in the country. During this time more than 20 MTU members and officers have been arrested.

By their own admission, despite this crackdown, the numbers have not significantly decreased. Thus, Immigration Control has stepped up the crackdown in the last several weeks. At the same time a proposal is being put forth to revise South Korea’s immigration law to make it completely legal to carry out the crackdown continuously without any procedures, such as requiring warrants or detention orders, to protect the human rights of the people it targets. The government has clearly stepped up its repression against MTU leadership at this moment in order to get rid of the force that has been at the forefront of the struggle against the crackdown.

3. Call for Solidarity

We, the Korean Confederation of Trade Unions and affiliate the Seoul-Gyeonggi-Incheon Migrantss’ Trade Union, make an urgent appeal to you to do whatever you can to support our struggle to free the arrested union leaders and end the barbaric crackdown underway in South Korea.

In particular we request that you

1. Faxed protest letters to the Ministry of Justice, Minister Jung Seong-Jin. Fax numbers: +82-2 503-3532 or +82-2-500-9128.

Please be sure to send a copy to KCTU by +82-2-2635-1134(fax) or e-mail at inter@kctu.org

2. Send a monetary donation of any amount. A check can be made out to Beak Sunyoung (Wooribank, account number 1002-932-624237) with MTU struggle campaign in the memo.

3. Organize protest actions in front of South Korean embassies or consulates in your country.

4. Send news of the arrest of MTU leaders to your networks.

We wish you also to know that KCTU and MTU are by no means deterred by this attack. MTU has already selected a temporary leadership and has demonstrations planned for December 5th and 9th as will as other protests actions in the upcoming days. We will mobilize every means possible to win the release of MTU’s leaders and stop the repression against MTU.

If you have any questions or need more information, please contact:

Lee Changgeun

International Executive Director

Korean Confederation of Trade Unions

Tel.: +82-2-2670-9234 Fax: +82-2-2635-1134

E-mail: inter@kctu.org Web-site : http://kctu.org

2nd Fl. Daeyoung Bld., 139

Youngdeungpo-2-ga, Youngdeungpo-ku, Seoul 150-032 Korea

Liem Wol-san

International Coordinator

Seoul-Gyeonggi-Incheon Migrants' Trade Union(MTU)-affiliated to KCTU

Tel : +82-2--2285-6068

Email: migrant@jinbo.net Website: http://mtu.or.kr

SAMPLE LETTER

Mr. Jung Seong-Jin

Minister of Justice

Seoul, South Korea

Dear Minister Jung,


On the morning of November 27 between 9:00 and 9:30, the president, vice president and general secretary of the KCTU affiliate, Seoul-Gyeonggi-Incheon Migrants’ Trade Union, were arrested, each in front of his separate home or workplace. This event has already received international attention. It is clear from the form in which the arrests took place that this was a targeted crackdown meant to silence MTU and the opposition struggle it has lead against the anti-human rights crackdown being carried out against undocumented migrants in South Korea. That this was a meditated act of repression is also apparent from the fact that the arrests came at the same time as the South Korean Immigration Control Office is stepping up its crackdown and a proposal is being put forth the revise immigration law to make it possible to carry out the crackdown continuously with complete disregard for the most basic procedures to protect human rights.

The arrests of the MTU leadership is a gross violation of human rights and a horrendous act of labor repression which targets not only migrant workers and MTU but also the KCTU, the 15 million workers it represents and the international labor community. As such, we will not remain silent.

We therefore forcefully call on you to meet the following demands:

-Immediately release President Kajiman, Vice President Raju and General Secretary Masum!

-Stop the targeted crackdown and labor repression against MTU!

-Stop the crackdown and deportation of undocumented migrant workers!

Signed,

Lee Changgeun

International Executive Director

Korean Confederation of Trade Unions

Tel.: +82-2-2670-9234 Fax: +82-2-2635-1134

E-mail: inter@kctu.org Web-site : http://kctu.org

2nd Fl. Daeyoung Bld., 139 Youngdeungpo-2-ga,

Youngdeungpo-ku, Seoul 150-032

Korea

Jumat, 02 November 2007

Allow one day renewal of passport to all Indonesian Migrant Workers now!


Press Statement
2 November 2007

Allow one day renewal of passport to all Indonesian Migrant Workers now!

Recently the Indonesian Consulate abolished the one-day of renewal passport policy for Indonesian migrant workers (IMWs). Due to this abolition, IMWs are now forced to wait for two weeks to have passports renewed that also meant spending extra cost to come back to Hong Kong for IMWs in Macau .

This has again proven the lack of will of the Indonesian Consulate in Hong Kong to improve their services for IMWs in Hong Kong and in Macau . The already insufficient and low standard of services of the consulate is now even worsened.

Upon inquiry for the ATKI-HK, the Indonesian Consulate said that the decision was because of the complaints from IMWs in Yuen Long that they are not allowed to also go through the one-day processing system even if they also live far from Causeway Bay . However, instead of opening the one-day processing system to everyone, the Consulate decided to abandon it entirely.

The decision was arbitrarily done by the Consulate without consultation with IMWs in Macau . Worse, the Consulate is using the complaint – that is aimed to call for an extension of the one-day processing system to also cover other IMWs in Hong Kong – to do a great disservice to IMWs in Macau and pit IMWs against each other.

Due to their geographical limitation and employment condition, IMWs in Macau will surely suffer from the Consulate’s decision. It will, however, also impact IMWs in Hong Kong as IMWs here also have limited time to conduct transactions in the Consulate. In fact, the Consulate even continues to refuse to accept passport renewal applications during Sundays because they said that the passport fee should be paid through the Government Bank which is not open on Sundays.

With the drastic increase of IMWs in Hong Kong that has reached more than 111,000 and more than 6,000 in Macau , definitely the needs of IMWs have increased. It is the responsibility of Indonesian Government through Indonesian Consulate to address these needs by increasing their services to IMWs.

Additionally, the call to abolish the high placement fee of HK$21,000 has not been addressed by Indonesian Government. Despite the demand to set the agency fee equal to one month salary, the government is only planning to reduce it to HK$15,000 which is still very high. The Indonesian government is also aware and even allows agencies in Hong Kong to illegally deduct the salary of IMWs for several months although it breaches the Hong Kong employment ordinance.

The Indonesian government has not yet answered the demands of IMWs in Hong Kong and Macau . Instead of thinking of ways to respond to the needs of IMWs, the government and the consulate seek ways to further diminish the already insufficient services they provide.

The Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia-Hong Kong (ATKI-HK) demands the Indonesian Consulate to:

  1. Provide one day renewal of passport service to all IMWs in Hong Kong and Macau .
  2. Full service for IMWs on Sunday.
  3. 8 hours a day full services for IMWs.
  4. Allow direct hiring for all IMWs in Hong Kong and make the process simple.
  5. Stop Overcharging.
  6. Stop potongan gaji illegal.

These are the matters that the Indonesian Consulate must address. We have enough of neglect, irresponsibility and ineptitude in protecting our rights and promoting our wellbeing.


ATKI-HK
Assosiasi Tenaga Kerja Indonesia Hong Kong


c/o: APMM, Jordan road no. 2, Kowloon, Hong Kong SAR
phone: +852 23147316 Fax: +852 27354559
blog: http://atkihongkong.blogspot.com


Contact person: Eni Lestari , Chairperson Tel: 96081475

Selasa, 30 Oktober 2007

Indonesian MW Illegally employed in US Military Camp in Iraq

At least, 72 Indonesian Migrant Workers (IMW) illegally employed in US military camp in Iraq. Government didn’t have information on their condition.

(Jakarta, Oct 2007)—Department of Foreign Affairs tries to have consular access to 72 Indonesian Migrant Workers (IMW) that been employed by US military authorities in Camp Victoria, Baghdad, Iraq. The Indonesian government also try to call US embassy in Jakarta, Cameron R. Hume to clarify the condition of 72 IMW that reported been hold by US military in Iraq.
Spokesperson of the Department of Foreign Affairs, J. Kristiarto Soerjolegowo, in Jakarta (10/9), explained that, “They (US gov’t) had promised to cooperate with the US embassy in Baghdad and representative of the secretary of states in Washington.”
According to Soerjolegowo, Indonesia will not only depend on the US Government, the Indonesian embassy in Amman, Jordan, also had made contact with Iraq embassy in Amman. “We want to make sure the concrete situation that faced by them, therefore sooner is better,” said Soerjolegowo.
Soerjolegowo also mentioned that the 72 IMW that employed in Camp Victoria work as technician, helper, and cook. Their monthly payment reaches US$3000 (almost Rp 27 million). They had been work in Iraq for 17 month since January 2006 and ended in July 2007. Regarding that situation, government tried to use consular access to have information of their condition. There’re no guarantee that they in a save condition. Government also tries to secure their right and will invite the 72 IMW to discuss the future work plan according to their interest.
As additional information, Department of Foreign Affairs get the information on IMW in US military camp from Steven Lathu, the formers IMW who also work in US military camp in Iraq. According to Lathu, first there’re 86 IMW, but 14 IMW had comeback to Indonesia. They were sent by PT North Java Sea Group, a labor supply services company (PJTKI) that based in Cilandak Dalam, South Jakarta.

Growing tension in Iraq-Turkey’s Border endanger five IMW
Five IMW—all of them are women—reported trapped in the mid of Iraq-Turkey’s border. They’re Elly Anita binti Susilo Husein, Darniati binti Jaba Saleh, Siti Julaiha binti Sugiman, Kasinah binti Dulkasan, and Taseng binti Tamih.
One of them—Elli Anita binti Susilo Husein—reported been captured. Increasing military tension between Turkey military with the Kurdist armed resistance had put the five IMW in a dangerous position.
All of them worked as domestic helper in the special autonomy zone that belongs to the Kurd. Just like other cases that reported above, the Indonesian government was also didn’t have enough information on their condition.
“We still try to contact and asking their condition to determine the sufficient effort that must do to help them,” said Soerjolegowo. “We also try to monitor the condition and so much hope to the both side to consider the regional stabilization”.

Nine agencies been blacklisted
Aside of 72 IMW’s case that been employed in US military camp, there also another case of IMW that been trapped in conflict zone in Iraq. One of those cases is the case of Elly Anita binti Susilo Husein.
Elly Anita binti Susilo Husein was one of IMW that was reported been captured in Mosul, Iraq. Elly is IMW from Dusun Tirtosari RT 03/RW 03, Andongsari village, sub-district Ambulu, Jember, East Java. There almost no information regarding her condition. Recently, government said that Elly Anita’s passport was still held by her agency.
According to Soerjolegowo, Elly Anita was no longer been captured. But, it stills temporary information. Now, she’s save with her friend. “We’ve called her by phone and accepted by her friends. He/she (?) said, Elly had already called her agency”, said Soerjolegowo. To make sure the information, government still tries to verify her condition just to make sure the safety of her condition.
The Elly Anita’s case dragged nine labor supply agency into blacklist. Those agencies were suspected had trafficked IMW to the military conflict zone in Iraq by Jordan, Bahrain, and Syria. One amongst those agencies is Nashwan Labour Agency that hold Elly Anita’s passport and sent Elly Anita to Iraq.
According to the Chairman of Association of Indonesian Labor Supply Agencies (Himpunan Pengusaha Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia or Himsataki), Yunus Yamani, Nashwan Labour Agency had illegally sent almost 75 IMW to Iraq. Yamani admitted, even the nine agencies was already been blacklisted, but they still can operate in Jakarta to recruit the applicant in Java.
He also mentioned that at least 17 person had been trafficked to Iraq by Syria. They usually sent IMW to countries that apply the visa on arrival like Syria before they trafficked to Iraq. The IMW that been trafficked to Iraq were usually backed by “double documents”.
This mean, the IMW usually asked to make a report to police that they passport was lost, and by using the police official statement, they can make their new passport from the Indonesian embassy in Syria, Jordan, or Bahrain. Their previous passport—the IMW’s special passport—were saved by their agencies. And the IMW entered Iraq by using the ordinary international passport.
According to the Indonesian laws, these actions are defined as illegal action. Therefore, Himsataki accused those nine agencies that been blacklisted involve in human trafficking syndicate and demand the law enforcement on them.

It’s Illegal and Exposes the Weaknesses of Law no. 39/2004!
Sending IMW to the military conflict zone like Iraq should be considered as illegal action. But even there’re already some cases, the IMW placement in military conflict zone—especially Iraq—was still happen. Some agencies, exploit the weakness of the law of Placement and Protection of the Indonesian Migrant Workers (Law Number 39/2004) to legitimize their illegal action.
The considerations that ruled the placement of IMW in hazardous areas are article 27 and article 30 in Law no. 39/2007. Article 27 “(1) The placement of IMW abroad can be conducted only to the destination countries whose governments have made written agreements with the Government of the Republic of Indonesia—ministry of labor and transmigration—or to the destination countries that have legislation that protects foreign workers. (2) Based on the considerations as referred to in paragraph (1) and based on security considerations the Government shall determine certain countries are closed for IMW placement with a Ministerial Regulation.
Article 30 “Every person shall not place candidate-IMW/IMW to positions and workplaces that are against the human values and social norms, as well as the legislation, either in Indonesia or in the destination countries or in destination countries stated closed as referred to in Article 27.”
The law no. 39/2004 are not clearly defined the concrete and specific condition that can be considered and determined as the “destination countries stated closed as referred to in Article 27”. According to the law, this must be defined by the decree of Ministry of Labor and Transmigration but the people were not clearly informed about that kind of decree. Or even the decree are exist, corruption and the lackness of government initiatives to socialize that decree create a wide opportunities for the bad-agencies to conduct such illegal action like sending IMW to the hazardous country like Iraq.
Therefore, the Law no. 39/2004 is no longer capable to accommodate the “growth of problems” of Indonesian Migrant Workers.

Jakarta, October 30, 2007
Syamsul Ardiansyah
Institute for National and Democratic Studies (INDIES).
E-mail: syamsuladzic@gmail.com

12 TKI di Irak Belum Jelas

JAKARTA (SINDO) – Indonesia meminta akses kekonsuleran terkait 12 TKI yang bekerja di otoritas militer Amerika di Irak. Juru Bicara Departemen Luar Negeri (jubir Deplu) J Kristiarto Soeryo Legowo mengatakan akses kekonsuleran ini, diharapkan bisa memberikan verifikasi keadaan yang terjadi terhadap ke-12 tenaga kerja Indonesia (TKI) tersebut.


”Kita usahakan akses kekonsuleran dari jalur manapun. Kita minta dari pejabat kita ke Dubes RI di Amman dan kedubes Amerika Serikat di Jakarta,” ujar Kristiarto di Jakarta, kemarin.Ke-12 TKI yang tertahan di Irak saat ini adalah Peter Patty, Ramdany, Hendrik Mahulette, M Yusuf Achmad, Akbar Idrus, Murisman Kahar, M Yusuf, Dodoy Kusyuniardi, Maulani, Putu Gede, Gede Gita Wiyana, dan Nyoman.


Dia mengatakan, Deplu telah mengetahui informasi tertahannya 12 TKI di Irak sejak 27 Juni 2007. Dari informasi tersebut, diketahui ke-12 TKI dikirim agen TKI PT North Java Sea Group. Saat ini,mereka ditahan di salah satu kamp militer di Irak,yakni Camp Victory (Baghdad).


Kemudian,paspor mereka juga ditahan perusahaan tempat mereka bekerja. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Deplu Teguh Wardoyo mengatakan, informasi tertahannya TKI di Irak diketahui dari Steven Lattu,seorang TKI yang dulu tinggal di Baghdad. Kemudian, Deplu menghubungi beberapa pihak terkait, seperti kedutaan di Washington DC,Suriah,Amman,Irak.


“Kita mendesak pemerintah yang bersangkutan untuk memberikan akses kekonsuleran. Beri izin WNI kita pulang atau berlibur, atau mereka mau putus hubungan kerja,”terangnya. Keberadaan 12 TKI ini diketahui bekerja di otoritas militer Amerika di Irak sejak 2 Januari 2006.Mereka berprofesi sebagai insinyur, pembantu rumah tangga, dan lainnya.Menurut dia,pada awalnya, AS berkelit mengakui jika ada WNI yang bekerja untuk AS.


Padahal, berdasarkan data yang dimiliki Deplu, ada sekitar 72 TKI bekerja untuk otoritas militer Amerika di Irak. Diketahui, dalam perjanjian kerja sama TKI di daerah otoritas militer Amerika di Irak memang memberikan banyak keuntungan, yakni setiap TKI akan mendapatkan gaji USD3.000.


Lalu, cuti tahunan berupa dua pekan kerja dalam setahun, dengan gaji tetap dibayar dan biaya mobilisasi menjadi tanggung jawab klien. Asuransi ditanggung sebanyak Rp250 juta dengan jam kerja 10 jam per hari atau 70 jam per pekan. Ke-12 TKI ini diketahui dikontrak selama 17 bulan sejak 2 Januari 2006. Karena itu, seharusnya hak cuti mereka telah diberikan sejak Mei lalu.


Kasus Elly Anita


Sementara itu, mengenai kasus TKI Elly Anita Binti Susilo Husein, Kristiarto mengatakan bahwa dia tidak dalam keadaan disekap karena diketahui menghubungi KBRI di Dubai, Uni Emirat Arab.“Kita telepon yang bersangkutan dan diterima oleh temannya.Dia bilang Elly sudah menghubungi agensinya,”jelasnya, kemarin,di Jakarta.


Untuk mendapatkan kepastian informasi, saat ini pihaknya tengah melakukan verifikasi terhadap keadaan yang sesungguhnya terjadi. Tegus Wardoyo menimpali setelah dicek, paspor Elly diketahui masih dipegang perusahaannya yang tidak boleh disebutkan. Kemudian, perusahaan tersebut tidak jadi mengirim Elly ke PT Naswan di Arab Saudi. (susi)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/12-tki-di-irak-belum-jelas-3.html

Senin, 29 Oktober 2007

9 Agensi Diduga Terlibat Tempatkan TKI ke Irak


TEMPO Interaktif, Jakarta:Penempatan tenaga kerja Indonesia di Irak diduga dilakukan oleh 9 agensi dari Yordania. Mereka merekrut TKI di Indonesia melalui calo, kemudian dibawa ke Yordania, Bahrain dan Suriah terlebih dahulu, sebelum dikirim ke wilayah konflik seperti Irak.

Ketua Himpunan Pengusaha Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (Himsataki), Yunus Yamani mengatakan salah satu agensi tersebut adalah Nashwan Labour Agency yang disinyalir mengirimkan Elly Anita, TKW asal dusun Tirtoasri RT 02/RW 03, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember yang saat ini disekap di Irak.

"Ada 9 nama agen TKI dari Yordania yang sudah masuk daftar hitam. Mereka mengirim TKI ke Irak dari Yordania, Suriah dan Bahrain. Tapi walaupun sudah masuk daftar hitam, kaki tangan dari agensi ini masih bebas beroperasi di Jakarta dan pulau Jawa untuk merekrut calon TKI," katanya, akhir pekan lalu.


Yunus mengatakan, pihaknya mendapat informasi bahwa saat ini ada kurang lebih 75 TKI yang akan diberangkatkan ke Irak melalui Nashwan Labour Agency tersebut. "Laporan resmi dari KBRI, jumlah TKI yang sudah dijual sampai ke Irak dan Suriah berjumlah 17 orang, yang akan dikirim sekitar 75 orang. Itu data yang ada di Himsataki, BIN, Polda, Depnakertrans semua sama," katanya.

Ia menegaskan, jaringan dan cara kerja agensi ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, kata dia, 9 agensi ini terlibat dalam jaringan perdagangan manusia (human trafficking). Sebelum TKI dikirim ke Irak, mereka diberangkatkan dulu ke negara-negara yang memberlakukan visa on arrival, seperti Suriah. "Setelah itu masuk ke Irak. Biasanya mereka berdokumen rangkap," kata Yunus.

Akibatnya, kata dia, kasus seperti Elly Anita yang dikabarkan dalam kondisi yang terancam hidupnya karena terperangkap di wilayah konflik bersenjata di Irak, tepatnya di Mosul, Kurdisatan sekitar 47 mil dari perbatasan Iran dan Turki. Sindikat perdagangan manusia ini, kata Yunus, yang mengurus kelengkapan dokumen TKI. "Mereka berangkat dengan paspor internasional, bukan paspor TKI," katanya.

Yunus menjelaskan, kaki tangan 9 agensi ini biasanya bekerja saat TKI menunggu dokumennya diurus oleh PPTKIS. Bagi pengiriman TKI ke Timur Tengah selain Arab Saudi, calon TKI diperbolehkan pulang sambil menunggu keberangkatan pesawat. Kesempatan ini digunakan oleh calo-calo dari agensi TKI nakal, dengan menawarkan keberangkatan lebih cepat dan murah.

"Caranya TKI membuat surat laporan polisi bahwa paspornya hilangnya. Akhirnya buat paspor lagi di Imigrasi. Padahal sebetulnya sudah dibuatkan paspor oleh PJTKI," paparnya.

Ia mempertanyakan kinerja aparat keimigrasian yang kecolongan dengan pengiriman TKI ke Irak ini. "Padahal pembuatan paspor sudah pakai sistem pembuatan paspor biometrik, seharusnya gak ada peluang duplikasi paspor," katanya. Namun kenyataannya masih saja terjadi paspor ganda dan lainnya.

Kalangan pengusaha penempatan TKI, kata dia, mendesak pemerintah dan kepolisian memberikan sanksi pada kaki tangan 9 agensi ini. "Pemerintah harus mengusut, orangnya ketahuan kok. Jangan orang kita saja yang ditekan. Tapi kalau ada orang asing yang mau memperdagangkan orang kita harus ditindak tegas. Orangnya ada jelas, sering datang, pihak Imigrasi juga tahu siapa orangnya. Saya punya data otentik," katanya.


Ninin Damayanti


Sabtu, 20 Oktober 2007

Siit Uncuwing

Minggu, 21 Oktober 2007

Cerita Pendek RIEKE DIAH PITALOKA

Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.

Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya, jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Dulu, setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki, dua setengah kilometer dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah.
Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Tapi semua orang tahu, sungai itu juga bisa mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu, menggerus apa saja. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Kalau sudah begitu orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan akan berteriak, "caah caah caah!"
September.
Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung. Paling seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Ada fotonya, lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum.
Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan, akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau.
Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Saat itu seisi rumah ketakutan, apalagi waktu seekor burung berkicau di pucuk daun kersen, halaman depan. Orang-orang menyebutnya siit uncuwing.
Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar.
Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin.
Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu.
Siit uncuwing pembawa kabar duka, begitu kepercayaan Enin. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi.
"Sieuh, sieuh, halig siah, pergi sana, pergi!"
Kali ini Enin melempari dengan kerikil.
"Belum waktunya anakku kau jemput. Sieuh, sieuh, ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!"
Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain.
"Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!" perintah Ambu, panik.
Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Ia terbang menuju lembayung.
Entah kebetulan atau bukan, esoknya Abah mulai bisa duduk. Enin peluk buah hatinya dengan haru.
"Komar, cepat sehat, Komar."
Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining.
Tapi, tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya, siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak menapak di mana pun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu menjauh dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi sambil membawa abah.
Enin dan Ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu, terutama Nining. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati karena mereka tak punya uang, walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup.
Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah.
"Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah."
Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti.
Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu.
"Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa."
"Geulis," Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, "biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan."
Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.
Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung.
Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah.
"Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?"
"Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin."
"Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi."
Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu.
Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya.
Awal Mei.
Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan Ambu.
"Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang."
Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang, sampai Arum hafal isinya.
September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, "Nanti akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!"
Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.
"Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!"
Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya.
"Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!" teriak keduanya bersahutan.
"Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!"
Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai.
Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai.
Arum mengendap.
Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, "caah!" Caah!Caah!"
Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi kekuatan, "Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu."
Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai.
"Hayu pulang, geulis."
Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.
"Teteh, teteh!" teriak Arum saat pertama kali membuka mata.
Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis.
Arum lari ke luar.
Di langit ada bulan sepotong.
Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum.
Di surau-surau takbir pertama berkumandang…
Depok, 160907

Jumat, 19 Oktober 2007

Sektor Jasa : Persaingan Bisnis Jasa PRT Makin Ketat

Kompas, Sabtu, 20 Oktober 2007



Yayasan-yayasan penyalur pembantu rumah tangga atau PRT saat ini harus bersaing ketat merekrut dan menyalurkan pembantu. Yayasan penyalur pembantu, termasuk orang yang menyalur (perantara atau sponsor), berlomba- lomba menyalurkan pembantu sesuai dengan tuntutan majikan.


Pemilik Yayasan Guna Karya, yayasan penyalur pembantu, Sitompul (72), mengungkapkan, ia sudah lelah mengurus yayasan itu. "Rencananya mau saya tutup," katanya. Yayasan itu didirikan tahun 1984. Setahun kemudian, yayasan itu pindah ke Kemayoran, Jakarta Pusat.


Menurut dia, waktu pertama kali pindah ke Kemayoran, hanya ada tiga yayasan penyalur pembantu. Namun, kini, belasan yayasan berderet di sepanjang Jalan Utan Panjang, Kemayoran.


Yayasan-yayasan yang tumbuh pada mulanya dirintis perantara atau orang yang mencari calon pembantu di kampung.


"Setelah melihat bisnis penyaluran pembantu cukup menjanjikan, tenaga perantara atau orang yang mencari calon pembantu di kampung itu mendirikan yayasan penyalur pembantu sendiri," kata Sitompul.


Persaingan ketat bisnis jasa penyalur pembantu itu cukup memengaruhi usaha Yayasan Guna Karya. Jika 10 tahun lalu Yayasan Guna Karya mampu merekrut dan menyalurkan 174 pembantu baru dalam sebulan, kini hanya 114 pembantu dalam setahun. Itu berarti dalam satu bulan Yayasan Guna Karya merekrut dan menyalurkan pembantu baru rata-rata 10 orang.


Seorang karyawan, Yohana Prihessy (31), mengungkapkan, ia membutuhkan pembantu karena sibuk di tempat kerja. Setiap hari ia pergi ke kantor di Jalan Jenderal Sudirman pukul 07.00 dan baru tiba di rumah pukul 20.00.


Hubungan antara majikan dan pembantu sangat penting dalam menjalankan jasa penyalur pembantu. Jika tidak, pembantu dikembalikan. Hambatan seperti itu dialami yayasan-yayasan penyalur pembantu, misalnya Yayasan Putera Mandiri.


Menurut penanggung jawab Yayasan Putera Mandiri, Iman (21), pembantu yang tidak "laku" sangat menyulitkan yayasan.


Di satu sisi, pembantu semacam ini berarti tidak menarik minat majikan. Di sisi lain, pihak pengelola yayasan tidak sampai hati memulangkan mereka karena kasihan.


Untuk mendapatkan calon pembantu yang terampil, proses rekrutmen sangat penting. Proses rekrutmen selama ini dilakukan oleh orang yang mencari calon pembantu di kampung yang disebut sebagai sponsor atau perantara.


Pengelola Yayasan Abadi Jaya Ibu Unah, Endah, menjelaskan yayasan itu sudah beroperasi sejak 1971. Setiap hari tak kurang dari lima wanita calon pembantu yang rata-rata berusia belasan tahun datang ke yayasan.


Mereka kebanyakan berasal dari Malingping, Bandung, Cianjur, Wonosobo, dan Tegal. Mereka dibawa oleh para pembawa atau perantara. "Kami enggak pernah nyari orang (calon pembantu). Mereka (calon pembantu atau perantara) sendiri yang datang ke sini," kata Endah.


Saat ini ada sekitar 15 pembawa atau perantara di Yayasan Abadi Jaya. Salah satunya adalah E Dahlan (57), warga Desa Cilangari, Gununghalu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.


Setelah Lebaran, dalam sebulan ia mengaku bisa bolak-balik Jakarta-Bandung hingga lima kali. Sekali datang, minimal ia membawa tiga calon pembantu.


Salah satunya adalah Aar, gadis berusia 14 tahun. Aar baru datang dari Desa Parabakti, Bogor. Ia ingin bekerja di Jakarta agar bisa membantu orangtuanya di desa. Aar dibawa ke Yayasan Abadi Jaya oleh Uwin.


"Kalau habis Lebaran sehari bisa tiga sampai sepuluh orang yang disalurkan," kata Endah. Setidaknya selama sebulan setelah Lebaran ia bisa menyalurkan tidak kurang dari 150 pembantu ke majikan-majikan yang membutuhkan pembantu di Jakarta.


Dari setiap pembantu yang diambil dari yayasan, ia mendapat Rp 500.000. Dari uang itu, setiap pembawa atau perantara mendapat Rp 200.000. Sisanya dipergunakan untuk uang makan calon pembantu dan pembawa yang menginap. "Dari satu orang setidaknya bisa dapat Rp 250.000 bersih," kata Endah.


Dengan asumsi sebulan setelah Lebaran calon pembantu yang disalurkan sebanyak 150 orang dengan pendapatan per calon pembantu Rp 250.000, berarti pendapatan yayasan itu Rp 37,5 juta. Jumlah itu tentu tidak sedikit. Tak heran jika banyak orang tertarik menekuni bisnis ini.


Ke depan, mungkin, permintaan jasa pembantu makin besar. Tuntutan keterampilan dan kemampuan pembantu pun akan meningkat. Bisnis jasa pembantu yang terampil dan berdedikasi tetap menjadi peluang karena permintaan akan tetap tinggi. (A05/A09)

Kamis, 18 Oktober 2007

OCHA Situation Report : Indonesia: Mt. Kelud Volcano OCHA Situation Report no. 1

Source: UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs

This update is prepared by the UN Humanitarian/ Resident Coordinator’ s Office in Jakarta based on the information provided by the National Coordinating Agency for Disaster Management (BAKORNAS PB), the Indonesian Red Cross (PMI), and media reports.


SITUATION

1. On 16 October 2007 at 18:00 hrs, the Directorate for Volcanology and Geological Hazard Management in Bandung, West Java Province, raised the alert status of Kelud Volcano to the highest Level 4. This indicates that an eruption is imminent. Mount Kelud is located approximately 90 kilometres southwest of Surabaya in East Java.

2. The Indonesian Red Cross (Palang Merah Indoensia ? PMI) reported that the number of shallow volcanic tremors has increased from 11 on 14 October to 306 yesterday. The temperature of water in the crater has increased from 36o C on 15 October to 37.8o C on 16 October.

3. BAKORNAS PB reported that the local authorities in Kediri and Blitar Districts commenced the evacuation of 116,736 people residing within the radius 10 km from the volcano’s crater. The order was issued at 1900hrs on 16 October to the residents of four sub-districts in Kediri (Ngancar, Plosok Klaten, Puncu, and Kepung) and three sub-districts in Blitar (Nglegok, Garung, and Gondosari). The evacuees are being relocated to schools, religious buildings, plantation areas and other facilities prepared by the local government located within 10 km radius from the crater.

4. Indonesian media reported that the eruption of Mt. Kelud may affect as many as 290,000 people. This number includes 251,622 residents in ten sub-districts of the Blitar district (Talun, Nglegok, Gandusari, Garum, Ponggok, Srengat, Udanawu, Sanankulon, Wonodadi, and Kanigoro) and 38,170 people in four sub-districts of the Kediri district (Ngancar, Plosoklaten, Pundu, and Kepung).

NATIONAL RESPONSE

1. BAKORNAS PB deployed one Deputy and two staff to the vicinity of Mt. Kelud two weeks ago to strengthen coordination mechanisms and cooperation with the local authorities. Another BAKORNAS team is to be deployed on 17 October.

2. SATKORLAK PB East Java Province has already established command posts in Blitar and Kediri districts.

3. Department of Social Affairs has prepared 100 tons of rice at each district level and 200 tons rice at provincial level. Tents for public kitchen, clothing, ready-to-eat meals for IDPs, and 1.5 tons baby food supplement have also been prepared for distribution.

4. Department of Health has mobilized 50 medical doctors and 50 medical staff for 41 medical services in Kediri and Blitar with the support from the community health posts (Puskesmas). 100,000 masks have also been distributed in Kediri, Blitar and Malang districts. 50 medical doctors have been prepared and deployed in Blitar and Kediri.

5. Department of Public Works has built 135 ’pockets’ through six rivers to manage the flow of some 21.3 million cubic meters of volcanic materials. Bulldozers were also put on stand by.

6. PMI Kediri Branch has mobilized 100 volunteers to assist in the evacuation and mobilized one truck with ten SATGANA (Disaster Response Teams) with equipment. In Blitar, PMI dispatched five platoon tents, mobilized two operational vehicles and one truck and put 15 personnel and 50 more volunteers on stand by. In Malang, PMI put 30 SATGANA and their equipment on stand by.

INTERNATIONAL RESPONSE

1. The Government of Indonesia has not issued a request for international assistance at this stage.

2. The United Nations is considering sending a small team from WFP and UNICEF Surabaya field offices to assess the situation and advise on gaps and priority needs.

3. The UN HC/RC Office is closely monitoring the situation with pertinent Government and non-government institutions including the Indonesian Red Cross.

For further information, please contact:

UN RC/HC Office Jakarta
Mr. Abdul Haq Amiri
tel. +62 21 314 1308
mob.+62 812 10 87 277

Ms. Titi Moektijasih
tel. +62 21 314 1308
fax. +62 21 319 00 003
mob. +62 811 98 76 14

Desk Officer:

New York
Mr. Wojtek Wilk
tel. +;1 917 367 3748

Geneva
Mr. Jean Verheiden
tel. +41 22 917 1381

Regional Office Bangkok
Mr. Rajan Gengaje
tel. +66 2 288 2572

Press contact:

Geneva
Ms. Elizabeth Byrs
tel. +41 22 917 2653

New York
Ms. Stephanie Bunker
tel. + 1 917 367 5126

Gambar Pengungsi Gunung Kelud






Foto-foto dari DetikFoto

Menunggu Nasib di Lereng Kelud Sendirian




Masyarakat Dusun Kampung Anyar, Kabupaten Blitar was-was sendirian menunggu nasib. Perhatian yang diberikan pemerintah pada tetangga Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Kelud, tidak mereka dapatkan.


Mereka hanya mengandalkan pengalaman yang mereka miliki. “Kami merasa diabaikan,” kata Sugeng Waluyo, Ketua RW Kampung Baru.Senja baru saja beranjak menjadi malam, ketika Pipit Suyono memulai aktivitasnya, Rabu (17/10) sore ini. Laki-laki Ketua Rukun Tetangga (RT) Kampung Anyar itu berkumpul dengan warganya. “Seperti biasa, kami akan memenuhi jadwal jaga malam ini, sebagai persiapan bila Gunung Kelud meletus,” kata Pipit Suyono pada The Jakarta Post.


Satu persatu, warga dusun yang terletak di perbatasan Kabupaten Blitar dan Kediri itu mulai berdatangan. Jaket tebal dan senter menjadi perlengkapan wajib yang harus dibawa.Persiapan penanganan bencana yang dilakukan di Dusun Kampung Anyar, Blitar ini memang berbeda dengan penanganan bencana di desa tetangga yang juga berada di lereng Gunung Kelud. Seperti Desa Tawang, kecamatan Wates, Kabupaten Kediri misalnya.Kalau di Desa Tawang penuh dengan fasilitas darurat seperti Rumah Sakit (RS) darurat, dapur umum, ambulan dan puluhan truk yang disediakan oleh Satuan Koordinasi dan Pelaksanaan (Satkorlak) Bencana Alam, namun tidak di Dusun Kampung Anyar.


“Jangankan rumah sakit darurat, paramedis pun menolak datang dan berjaga di sini karena takut,” kata Pipit.Karena kondisi itu, dusun berpenduduk 400 orang ini harus mempersiapkan segala keperluan menghadapi bencana secara swadaya. Mulai pos penanganan hingga truk pengangkut yang akan digunakan sebagai sarana evakuasi adalah milik warga. Rumah Ketua Rukun Warga (RW) Dusun Kampung Anyar Sugeng Waluyo digunakan sebagai posko penanganan. Hanya sebuah tenda di tengah lapangan dan obat-obatan yang baru dua hari lalu dibantu oleh Satkorlak.


Pipit menceritakan, sejak Gunung Kelud di Jawa Timur mulai diberitakan mengalami peningkatan aktivitas, warga Dusun Kampung Anyar mulai mengefektifkan jaga malam. Tujuannya, untuk tetap waspada bila suatu saat Gunung Kelud itu akan benar-benar meletus. “Kami belajar dari pengalaman, Gunung Kelud tidak bisa diprediksi secara pasti, untuk itu kami harus terus berjaga-jaga,” kata Pipit.Bagi warga Kampung Anyar, peningkatan aktivitas gunung Kelud memang bukan hal baru.


Beberapa orang warga asli desa ini adalah saksi hidup meletusnya gunung yang sulit diprediksi kepastian aktivitasnya itu. Bahkan ada penduduk asli yang menjadi saksi tiga kali letusan gunung itu. Misman adalah salah satunya. Laki-laki berusia 87 tahun itu adalah saksi hidup tiga kali letusan gunung Kelud di tahun 1950, 1965 dan 1990. “Tiga kali letusan yang menakutkan,” kenang Misman.Laki-laki yang selama hidupnya menjadi buruh kebun itu menceritakan sepanjang yang dia ketahui, gunung Kelud hanya memuntahkan batu, pasir, awan panas dan lahar dingin.


“Meskipun hanya batu, pasir, awan panas dan lahar dingin bebentuk air, namun hal itu cukup menakutkan, dua penduduk Kampung Anyar meninggal dunia karenanya,” katanya. Semuanya diawali dengan gempa dan letusan keras dari puncak gunung.Setelah itu, langit di atas gunung menjadi hitam oleh material yang dimuntahkan gunung Kelud. Di sela-sela hitamnya langit terlihat kilat menyambar-nyambar. Tak lama berselang, terdengar suara gemuruh yang tidak henti-henti.


“Ketika langit menghitam, itu biasanya berupa batu-batu yang terdorong ke langit, suara gemuruh itu adalah aliran lahar dingin yang mengalir deras dari puncak gunung ke arah bawah,” kenangnya.Penduduk yang mengetahui hal itu biasanya memilih untuk keluar dari rumah dan bergegas menuju ke tempat-tempat yang dijadikan lokasi evakuasi. Bila hujan batu dan abu, rumah-rumah dengan konstruksi bangunan yang kuat dijadikan tempat evakuasi.


“Tapi bila yang keluar lahar dingin, penduduk biasanya memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan dataran tinggi,” kata Misman.Dalam menghadapi status Awas Kelud kali ini, warga desa Kampung Anyar sudah mempersiapkan delapan rumah yang akan dijadikan tempat evakuasi. Salah satunya di sebuah gereja Katolik yang berada di kawasan itu. Bila kondisi tidak memungkinkan untuk bertahan, maka tiga truk milik warga akan digunakan untuk proses evakuasi. “Saya tidak tahu, apakah jumlah truk itu akan mencukupi untuk 400 warga yang saat ini ada di Kampung Anyar,” kata Ketua RW Dusun Kampung Anyar Sugeng Waluyo.


Satu hal yang paling ditakuti membuat warga Kampung Anyar adalah kemungkinan keluarnya gas beracun saat gunung Kelud benar-benar meletus. Sugeng hanya mengernyitkan dahi saat membayangkan hal itu. “Kami benar-benar tidak tahu kalau memang yang keluar dari gunung Kelud adalah gas beracun, yang pasti kami akan berlari sejauh mungkin dan berharap angin tidak membawa gas itu ke arah kami, semoga saja,” kata Sugeng yang pada tahun 1990 merasakan letusan Gunung Kelud itu.


Kalau gas beracun itu benar-benar dimuntahkan, resiko kematian bukan hanya menjadi ancaman warga Kampung Anyar, melainkan juga warga Desa Sumber Asri yang terdiri dari 13 RW dengan jumlah penduduk sekitar 2600-an orang. Belum lagi penduduk Desa Tawang Kecamatan Wates Kabupaten Kediri yang memiliki jumlah penduduk lebih dari itu. Semoga ketika itu mereka tidak lagi berjuang sendirian untuk bertahan hidup.

Foto-Foto Terbaru Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo
















Indonesian migrant worker dies in Malaysia

CILACAP, Central Java (Antara): An Indonesian migrant worker who worked in an oil palm plantation in Malaysia identified as Redi Martin, 19, died early this month, a spokesman said.


"We have not yet been informed of the cause of his death, but it was allegedly due to a torture by Malaysian security personnel," Saidi, Redi’s uncle said here on Wednesday.


Saidi said Redi’s body was expected to arrive home in Adipala sub-district, Cilacap, Central Java province, on Thursday.


According to Saidi, he got information about Redi’s death on Wednesday last week from an official at the Indonesian Consulate in Johor Baru who called the labor recruitment in Jakarta where Redi’s mother worked.


Saidi said he was informed that the victim passed away on Oct. 5.


In 2005, Redi was recruited for work in a flower estate and left for Malaysia legally. But he then quit his job and moved to an oil palm company for a higher salary. (**)



http://www.thejakar tapost.com/ detailgeneral. asp?fileid= 20071018110853&irec=1

Minggu, 14 Oktober 2007

Sedih Tak Bisa Pulang Lebaran

Senin, 15 Oktober 2007


Warga Perantauan
Sedih Tak Bisa Pulang Lebaran


Sedih. Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan warga Indonesia yang tinggal di luar negeri dan tidak dapat mudik berlebaran di kampung halaman.

Di Singapura, shalat Idul Fitri digelar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, Sabtu (13/10) pagi.

"Sebagian jamaah terisak-isak menangis," kata Trie Mayor (39) yang turut dalam shalat Ied di KBRI Singapura. Trie Mayor segera meluncur ke Tampines untuk berhalalbihalal dengan puluhan warga Indonesia lainnya. Ada ketupat, rendang, opor, sambal goreng ati, bahkan siomay pun menyemarakkan sajian Lebaran di Tampines tersebut.

"Makanan ini sumbangan warga yang datang ke acara halalbihalal itu. Ada banyak kafe dan resto yang juga menjual masakan Indonesia, tetapi rasanya lebih afdal kalau kami bikin sendiri," tutur Trie.

Perasaan sedih pun menggayuti Fadillah (27) yang bekerja di bagian pengecekan kualitas pada Spill Electronic Company di Taichung City, Taiwan. Ia tidak mudik ke Solo, Jawa Tengah. Demikian juga Detty di Zurich, Swiss, dan Asmarani Marchetti di Cairo, Mesir. Mereka tidak mudik karena anak-anak tidak libur.

"Anak-anak saya sekolah di sekolah Italia di Mesir, jadi tidak ada libur Lebaran," kata Rani, nama panggilan Asmarani Marchetti.

Tania Anderson yang bersekolah bahasa Denmark di Sporg og Integrations Center Copenhagen, Denmark, tidak mudik ke Jakarta karena tidak libur.

Di Paris, Yuli Moreno (32) merayakan lebarannya seperti tahun lalu, di Perancis, karena keterbatasan biaya. Dia mengenang momen mudik Lebaran ke Kuningan, Jawa Barat—bagaimana pemudik sampai menyewa bajaj dari Jakarta.

Kenangan manis Detty di Rumbai, Pekanbaru, semasa kanak-kanak adalah ketika mendapat tiga baju Lebaran. Trie selalu berbaju kembar dengan dua kakak perempuannya, dan setelah itu foto di studio foto. "Fotonya masih hitam putih," kenangnya.

Lebaran adalah kemenangan mengalahkan hawa nafsu, bermaaf-maafan dan memulai hidup baru. Meski tak bisa berkumpul dengan keluarga di Indonesia, berkumpul dengan "keluarga-keluarga baru" di luar negeri pun dapat mendamaikan hati.... (LOK)


www.kompas.co.id

Kamis, 11 Oktober 2007

Selamat Idul Fitri 1428H


Atas nama keluarga besar Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong, kami mengucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Eni Lestari
Ketua Umum
ATKI-HK

Rabu, 10 Oktober 2007

Anggaran Pendidikan Nasional Rp 49,068 Triliun


Oleh
Ester Fin Harini/ Stevani Elisabeth

Jakarta – Anggaran Departemen Pendidikan Nasional dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2008 disepakati Rp 49,068 triliun. Dalam perhitungan pemerintah angka ini adalah sekitar 12,4 persen dari APBN, namun dari sisi DPR jumlah ini baru 12 persen dari APBN, ini merupakan pos terbesar.
Meski demikian, jumlah ini lebih besar dibandingkan pagu pertama dalam RAPBN 2008 sebesar Rp 48,273 triliun.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat Panitia Anggaran DPR dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Gultom, yang berlangsung Senin (8/10) hingga larut malam. Rapat dipimpin oleh Ketua Panitia Anggaran Emir Moeis.
Selasa (9/10) ini, DPR mengesahkan RUU APBN 2008 menjadi UU APBN dalam Sidang Paripurna DPR. Perhitungan anggaran pendidikan menggunakan formula baru, yakni nilai perbandingan dalam bentuk persentase antara alokasi anggaran fungsi pendidikan di dalam belanja negara, ditambah Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan, tidak termasuk gaji pendidik dan pendidikan kedinasan terhadap keseluruhan belanja negara di luar keseluruhan gaji.
Formula baru ini mendapat catatan dari Fraksi PDIP yang meminta persentase dihitung terhadap total belanja negara pusat.

Sementara catatan dari FPAN, kenaikan anggaran pendidikan hanya sebesar 0,2 persen sehingga sulit untuk mencapai anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam waktu dua tahun ke depan sesuai target pemerintah. Lebih lanjut, kenaikan anggaran pendidikan yang hanya 0,2 persen itu mengindikasikan kekurangseriusan pemerintah untuk mencapai 20 persen sesuai amanat UUD 1945.
Anggota Panggar dari FPAN, Marwoto Mintohardjono, mengatakan catatan FPAN itu
sebagai minderheit nota (keberatan). Selain mengajukan minderheit nota untuk anggaran pendidikan, FPAN juga mengajukan keberatan untuk anggaran remunerasi Departemen Keuangan dan tidak adanya tambahan alokasi gas untuk pupuk dan PLN, sehingga membengkakkan subsidi. "Remunerasi Depkeu, selain terlalu besar, juga diskriminatif, " ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan
minderheit nota adalah keniscayaan dalam berdemokrasi. "Kami akan
memperhatikan hal tersebut," kata Menkeu.
Secara terpisah, Mendiknas Bambang Sudibyo usai buka puasa bersama, di Jakarta, Senin (8/10), menjelaskan 95 persen pagu anggaran pendidikan tersebut diprioritaskan untuk penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) sembilan tahun. Pemerintah memang telah menargetkan penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun pada 2008.
Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto mengatakan, Komisi X DPR telah meminta agar pemerintah kembali menyusun anggaran untuk Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) , sesuai dengan anggaran yang telah disepakati sebelumnya dengan DPR yakni sebesar Rp 21 triliun.
Menurutnya, sejak adanya SKB Bappenas dan Menteri keuangan beberapa waktu yang lalu, maka pagu anggaran untuk Ditjen Mandikdasmen yang semula besarnya Rp 21 triliun, mengalami perubahan menjadi Rp 19 triliun.
"Adanya surat tersebut, ada program-program yang tidak sesuai dengan renstra pendidikan misalnya pengadaan komputer untuk SMP dan SMA yang semula hanya 1.000 unit ditambah menjadi 5.000 unit," ujarnya. Akibatnya ada beberapa program pendidikan yang tidak terbiayai seperti pembangunan sekolah bertaraf internasional, pembangunan TK/SD bertaraf internasional, olimpiade mata pelajaran dan lomba olah raga dan seni.

Akan Koordinasi
Dia menambahkan, DPR sendiri berjanji untuk melakukan koordinasi dengan Bappenas dan Menkeu agar pagu anggaran pendidikan untuk Ditjen Mandikdasmen sesuai dengan kesepakatan sebelumnya yakni Rp 21 triliun. "Ini memang belum definitif, namun kita terus mencoba. Sebab UU RAPBN belum diketok," lanjutnya.
Sementara itu, DPR juga menyepakati anggaran Departemen Pekerjaan Umum Rp 36,158 triliun, Departemen Pertahanan Rp 33,679 triliun, Kepolisian Negara Rp 21,211 triliun dan Departemen Kesehatan Rp 19,704 triliun. Sedangkan Departemen Perhubungan memperoleh Rp 16,579 triliun, Departemen Agama Rp 16,439 triliun dan Departemen Keuangan Rp 15,858 triliun.
Anggaran cukup besar juga dialokasikan untuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD dan Nias Rp 7 triliun. Total anggaran Kementerian/ Lembaga (KL) mencapai Rp 302,626 triliun.
Wakil Ketua Panitia Anggaran Ahmad Hafiz Zawawi Hafis mengatakan, dari angka itu Panja telah menyepakati tambahan belanja KL tahun 2008 sebesar Rp 4,955 triliun. Anggaran ini dialokasikan untuk belanja modal produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, belanja produktif dalam rangka meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan meningkatkan anggaran pendidikan.
Belanja pemerintah pusat lebih tinggi Rp 8,807 triliun dibandingkan angka dalam RAPBN sebesar Rp 564,623 triliun.
"Belanja pemerintah pusat Tahun 2008 setelah mendapatkan
tambahan optimalisasi dari Panja Asumsi, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan dan Efisiensi Panja Belanja Pemerintah Pusat adalah sebesar Rp 573,43 triliun," kata Ahmad di Jakarta, Selasa (9/10).
Rinciannya, belanja pegawai disepakati Rp 128,169 triliun. Angka ini lebih
rendah Rp 1,366 triliun RAPBN sebesar Rp 129,535 triliun. Hafiz mengatakan, belanja pegawai ini telah mencakup kenaikan
gaji/pensiun pokok 20 persen, pemberian gaji/pensiun ke-13, kenaikan uang makan PNS dan lauk-pauk TNI dan Polri, serta pemberian dana kehormatan veteran.
Di sisi belanja barang, angka yang telah disepakati Panja sebesar Rp 52,397 triliun, atau sama dengan RAPBN. Sementara untuk belanja modal, angka sementara yang disepakati Rp 101,538 triliun. "Panja sepakat hasil
optimalisasi yang dialokasikan ke Kementerian/ Lembaga (KL) difokuskan dan diprioritaskan untuk belanja modal, sehingga belanja modal akan mengalami peningkatan dari angka sementara sebesar Rp 101,583 triliun," kata Hafiz.
Jika dibandingkan dengan APBNP 2007, belanja pemerintah yang disepakati ini juga lebih besar, kecuali untuk belanja barang yang hanya Rp 61,823 triliun.
Dalam APBNP 2007, belanja pegawai dianggarkan sebesar Rp 98,564 triliun dan belanja modal Rp 68,086 triliun. Padahal, pemerintah masih mengalami kesulitan dalam membelanjakan anggarannya, khususnya belanja modal. Dirjen Perbendaharaan Herry Purnomo belum lama ini mengatakan, hingga akhir Agustus realisasi belanja modal pemerintah baru mencapai 30,7 persen.


(esther fin harini/stevani elisabeth


http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0710/ 09/sh01.html

Senin, 08 Oktober 2007

Gagal, Pengiriman TKI Ilegal

Selasa, 09 Oktober 2007

Berangkat dengan Pesawat yang Terbang Tengah Malam



Tangerang, kompas - Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Khusus Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menggagalkan pengiriman 60 tenaga kerja wanita secara ilegal. Dalam kasus ini, polisi meringkus enam pria yang kini ditetapkan sebagai tersangka pelaku.


Para tersangka, LG, NR, Ag, HS, Zm, dan Abd, adalah orang-orang yang saling kenal, tetapi mereka bergerak sendiri-sendiri dalam usaha ilegal tersebut. Korban semula hendak dikirim menjadi pembantu rumah tangga di Suriah, Jordania, dan Arab Saudi.


Para calon tenaga kerja wanita (TKW) yang berasal dari Kabupaten Indramayu dan Sukabumi, Jawa Barat, serta daerah lain di Jawa Tengah itu diamankan dalam operasi yang berlangsung dari pertengahan September hingga awal Oktober ini.


Agar tak ketahuan petugas, calon TKW diberangkatkan secara bergelombang dalam jumlah dua hingga empat orang dalam satu penerbangan. "Mereka berangkat dengan menggunakan pesawat yang terbang pada tengah malam," kata Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Khusus Bandara Soekarno-Hatta Inspektur Satu Agus pada Senin (8/10).


Para calon TKW sebagian besar menggunakan paspor umum warna hijau, tetapi dilengkapi dengan rekomendasi bebas fiskal luar negeri. Rekomendasi bebas fiskal mestinya hanya dikeluarkan untuk TKI/TKW pemakai paspor khusus.


Dalam penyidikan lanjutan, polisi menyita stempel imigrasi dari rumah tersangka Abd. Kepala Polres Khusus Bandara Soekarno-Hatta Ajun Komisaris Besar Guntur Setyanto semalam menyatakan pihaknya masih mendalami kasus tersebut. "Modus adanya surat rekomendasi bebas fiskal dari Depnakertrans bagi calon TKI berpaspor hijau pernah ditemukan tahun 2006. Ternyata surat itu palsu. Apakah kasus kali ini sama, kami masih menyelidiki," ujar Guntur.


Keluarga pencuri


Hari Minggu lalu polisi setempat juga menangkap pasangan Ir (40) dan Nt (38) asal Medan bersama anak mereka yang ketahuan mencoba mencuri barang-barang dalam sebuah mobil yang diparkir di Bandara Soekarno-Hatta.


Pasangan ini sudah lima kali mencuri barang seperti tas berisi komputer jinjing, televisi, dan tape mobil dari dalam mobil yang diparkir di Terminal 2.


Mobil yang diparkir di Terminal 2 menjadi sasaran empuk karena biasanya milik orang kaya yang bepergian ke luar negeri.


Pasangan ini beroperasi dengan cara membawa mobil ke tempat parkir untuk berpura-pura mencari tempat parkir. Setelah berada di sisi mobil yang menjadi sasaran, anak mereka dilepaskan untuk bermain-main sehingga bisa mengalihkan perhatian, sementara mereka memecah kaca atau merusak kunci mobil yang menjadi sasaran mereka. (TRI)

Apa Pun yang Terjadi, Mudik Yok...

TKW Mudik
Apa Pun yang Terjadi, Mudik Yok...



Perempuan itu duduk termenung di Lounge TKI Bandara Soekarno-Hatta. Sesekali ia menengok ke arah Bus Angkutan Khusus TKI. Wajahnya tampak resah. Rupanya, ia menantikan datangnya sopir bus yang akan mengangkut ke Terminal TKI.


Jumat kemarin, hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 300 TKW tiba di Tanah Air. Sehari sebelumnya, TKW yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta mencapai 1.362 orang.


Begitu tiba, TKW yang mendapat julukan pahlawan devisa ini harus menghadapi kenyataan membosankan dan menyedihkan.


Sari (34), salah seorang TKW yang baru tiba itu, harus menunggu Bus Angkutan Khusus TKI selama hampir tiga jam, sebelum bus itu berjalan ke Terminal TKI. Dari Terminal TKI inilah, mereka baru bisa berangkat menuju kampung halaman untuk bertemu anak dan keluarga dekat lainnya.


Namun, keluhan Sari belum usai. Pasalnya, para TKI tidak bisa keluar dari Terminal TKI itu bila tidak menggunakan bus agen perjalanan yang disediakan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) untuk pulang sampai ke daerah asal masing-masing.


Seraya menggerutu, ia terpaksa merogoh dompet dan uang sebesar Rp 390.000 dikeluarkan untuk membayar angkutan yang akan mengantarkannya ke Cilacap. "Bayar lagi, bayar lagi, mahal lagi. Kalau jalan sendiri, kan, bisa jauh lebih murah," ujarnya.


Di papan pengumuman—di depan loket tiket perjalanan yang terletak di belakang loket pendataan TKI—terdapat daftar harga tiket. Di antaranya, untuk tujuan Jakarta Rp 125.000, Tangerang Rp 120.000, Yogyakarta Rp 430.000, Tegal Rp 370.000, Cilacap Rp 390.000, Surabaya Rp 465.000, Cianjur Rp 370.000, Depok-Bogor Rp 140.000, dan Palembang Rp 435.000.


Made, Koordinator Grup A BNP2TKI, mengatakan, harga itu tidak memberatkan TKI. "Daripada mereka ditarik-tarik calo," ujarnya.


Anggota Komisi IX dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Rustam Effendi, mengatakan, tugas BNP2TKI adalah melakukan penempatan dan perlindungan TKI. Seharusnya tidak ada lagi biaya untuk mengantar TKI ke tempat tujuannya.


"TKI itu, waktu berangkat sudah dipungut Rp 400.000,-. Jadi, mereka tidak boleh dipungut lagi ketika pulang," ujarnya.


Rustam merasa gusar dengan adanya pungutan yang masih terus berlangsung terhadap TKI.


"Besok, (hari ini-Red) saya bersama dua atau tiga orang lainnya akan sidak," ujarnya.


Lebaran di Kampung


Setelah dua kali minta izin untuk mudik, akhirnya Sari diberikan waktu berlebaran di kampung. Majikannya memberikan bonus tiga kali gaji bulanan untuk dibawa pulang. Tiket pulang-pergi Jakarta-Singapura pun sudah dibelikan majikannya.


Bahkan, sejak tiga hari lalu, Sari sudah mengirim uang sebesar 2.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 11.900.000,- untuk keluarganya. Rencananya, uang itu akan digunakannya untuk memperbaiki rumah di Cilacap.


Berbeda dengan Sari yang terbilang sukses mengadu nasib di negeri orang, nasib yang dialami Rani (24) buruk. Setelah bekerja selama dua tahun di Jeddah, Arab Saudi, ia terpaksa pulang dengan tangan hampa dan tidak diperpanjang kontrak kerjanya.


"Majikan saya mengada-ada, bilangnya kecewa dengan hasil kerja saya. Padahal saya sudah mengabdi selama dua tahun," ujarnya sambil berkaca-kaca.


Perempuan asal Kebumen ini mengeluhkan sistem penggajian yang diterapkan di tempatnya bekerja.


"Selama ini uangnya selalu ditahan mereka. Katanya, kalau mau pulang baru diberikan. Tetapi bila mereka tidak puas dengan kerja kita, ya uangnya diambil, katanya untuk bayar jaminan ke agennya," ujar Rani yang mengaku hanya dibekali 100 dollar Amerika untuk mudik ke Indonesia.


Meski mendapat perlakuan yang tidak menguntungkan Rani mengaku tidak akan berhenti mengadu nasib di negeri orang. "Mungkin yang sekarang enggak beruntung, tapi mungkin di tempat lain bisa lebih baik nasibnya," ujarnya penuh harap.


Mudik Selagi Sempat


Atun (34), Wati (29), Diah (21), Lisna (21), Ruli (21), dan Valent (26) adalah calon TKW yang akan diberangkatkan ke Taiwan. Mereka ditemui sedang menunggu kereta api di Stasiun Jatinegara.


Selama dua bulan terakhir, mereka tinggal di tempat penampungan dan pelatihan milik sebuah PJTKI di Serpong, Tangerang.


Mereka berkesempatan mudik karena belum ada jadwal keberangkatan mereka ke Taiwan.


"Senang bisa keluar dan pulang, biasanya sehari-hari di kamar," ujar Atun, calon TKW asal Purworejo yang sudah punya dua anak.


Mereka merasa beruntung daripada rekan-rekan mereka yang tak bisa mudik. "Berat ninggal teman-teman, ada yang nangis karena nggak punya uang buat mudik," ungkap Lisna.


Keenam calon TKW itu pun mengaku uang yang mereka gunakan untuk mudik berasal dari sisa kiriman orang tua. "Habis dari mana, di penampungan kan kita nggak digaji," tutur Atun.


Perempuan bertubuh subur itu menuturkan, kehidupan di penampungan tidak selalu buruk seperti yang selama ini diberitakan.


"Senang bisa kenal banyak orang dan sifatnya," terang Atun.


Namun, diakuinya aturan dan kedisiplinan di penampungan harus ditaati. Jika tidak, mereka akan dikeluarkan.


Di tempat penampungan, mereka tidak diperbolehkan berteriak dan tertawa keras-keras. "Kalau kedengaran suster bisa disiram air, ya tsunami deh," ujar Valent.


Sejak pukul 08.00 - 15.00, mereka harus belajar bahasa Mandarin. Selanjutnya, belajar keperawatan dan pekerjaan rumah tangga hingga pukul 17.00.


Mereka yang sudah mahir berbicara Mandarin akan ditawarkan kepada agen di Taiwan. Terkadang, agen Taiwan datang langsung ke PJTKI untuk memilih TKW yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkannya.


Atun, misalnya, sudah dua kali ditawari pekerjaan. Tawaran yang pertama didapatnya tanggal 25 September, untuk merawat perempuan lumpuh. Tetapi tawaran itu dibatalkan. Tanggal satu Oktober lalu, ditawari lagi untuk merawat seorang kakek.


Namun, hingga sekarang belum ada kepastian dari agen Taiwan mengenai tawaran kerja tersebut. "Ya sabar dulu, mungkin ada tawaran lagi yang cocok buat saya," tutur Atun.


Sekarang yang penting mudik dulu. Meski, kisah sedih TKW ketika pulang ke tanah air sering didengar, namun hal itu tak menyurutkan niat kerja di negeri orang.


(A15/A14)

Help Zilan and uphold the rights of migrants and refugees to establish own family in Japan

Help Zilan and uphold the rights of migrants and refugees to establish own family in Japan

Last January 28, 2004 the Justice Ministry issued a deportation order to a Turkish Kurd, his Filipino wife and their now 6-year-old daughter a deportation order for overstaying their visas. Taskin, his wife, Beltran, and their daughter, Zilan, were asking for special residency permits as the couple has lived here for more than a decade and the girl was born and raised here. The family has asked that their full names not be used as it could negatively affect their request for asylum.

The deportation order means Taskin must return to Turkey, while Beltran and Zilan have to go back to the Philippines and the family is appealing in court to stop the family separation that could psychologically damage the 6-year-old daughter, Zilan. Taskin is also waiting for a decision on his fourth appeal for refugee status, saying he faces arrest or torture if sent back to Turkey.

Taskin came to Japan in 1993 to evade military service because he did not want to fight against his own people, and Beltran arrived in 1996. The couple began living together in 1999 and married in 2001. Taskin, Beltran and Zilan were detained in January 2004 but the daughter was immediately released and left alone at a child welfare center for two days before Beltran’s relatives could retrieve her. Zilan suffered from depression after being separated from her parents and lost 7 kg. The three were given provisional releases, which must be renewed monthly. They face the threat of detention every time they show up for a renewal.

The Taskin-Beltran Family background

Taskin was born in Kurdish community located in the South eastern area of Turkish territory in 1975, and was raised as a Muslim. In Turkey, Kurdish people have been oppressed for long period of time like prohibition to use their own language and culture. As a result there were internal conflicts between the armed Kurdish group and the Turkish army that started in the mid 1980’s. In the 90’s, the Turkish army bombed over 3000 Kurdish communities making over 30,000 people as refugees in and out of Turkey.

Taskin and his family were evacuated from their community at that time. Taskin was 17 years old. In Turkey, boys have to go to military service when they become 18 years old. Once he becomes a soldier, he too may oppress the Kurdish people and for this reason Taskin decided to run into Japan.

Beltran was raised in the community strictly professing Christianity and she is deeply afraid that her family and community will never accept her anymore for being married with a Muslim. Beltran is deeply involved and currently the chairperson of KAFIN prefectural chapter, a Filipino organization affiliated with the global alliances of Filipinos the Migrante International. Beltran and her led organization is actively campaigning against the political killings and in stopping the Japanese ODA to the Philippine government.

So the family considers that Japan is the only place where they can safely live together.

Last March 23, 2007 the District Court dismissed the lawsuit filed by Taskin-Beltran family. The court acknowledged that the family had resided in Japan for a long time and that they became used to Japanese society, but it ruled that those factors alone did not entitle them to protection under the law, since they had overstayed their visas. The court claimed that even if the mother and daughter are separated from the father, the child will not suffer serious physical or emotional damage as long as she lives with her mother. Zilan finished kindergarten in Saitama Prefecture and now enrolled in local elementary school.

Our petition

The March 23, 2007 court decision saying that “even if the mother and daughter are separated from the father, the child will not suffer serious physical or emotional damage as long as she lives with her mother” is in complete disregard and disrespect to the UN Convention on Child’s Rights Article 9, Section 1 that says: States Parties shall ensure that a child shall not be separated from his or her parents against their will, except when competent authorities subject to judicial review determine, in accordance with applicable law and procedures, that such separation is necessary for the best interests of the child.

Japan is a signatory to the UN Convention on Child’s Rights and therefore is duty bound to observe and to enact laws to protect the interest of children. The case of the Taskin-Beltran family goes beyond the problem of Kurdish asylum seekers alone and touches on children’s rights as protected by international agreements.

Since 1982, when Japan began accepting asylum-seekers after ratifying the U.N. convention on refugees in 1981, no Turk -- hence no Kurd with Turkish citizenship -- has been granted refugee status here. The ministry only classifies people applying for refugee status by their nationality and Japan does not want to recognize a Kurd as meriting refugee status because that would be tantamount to recognizing the Turkish government’s human rights violations against Kurds. Besides, in 2006, 954 people applied for refugee status, more than double the number of applications received the previous year. But the Justice Ministry recognized only 34 as refugees in 2006, down from 46 in 2005.

The appeal of Zilan and the Taskin-Beltran family is a cause for the recognition of child’s rights and a call for better treatment to refugees addressed to the Japan’s Justice Ministry. The public opinion especially the international appeal is an important wake-up call for Japan who is an economic giant needing to nurture more laws and policies protecting child, migrants and refugees.

We need your support by affixing your name or your organization’s name and addresses in the enclosed or send in our email, helpzilan@yahoo.com for our submission to the Justice Ministry before November 18, 2007. Together let us say to stop tearing apart the Taskin-Beltran family; Respect the rights of Zilan as guaranteed by the UN Convention on the Rights of Child; Respect the rights of the Kurds to and other refugees; Grant special permit residency to the Taskin-Beltran family.

In solidarity,

Rev. Toshifumi Aso
Help Zilan and the Taskin-Beltran Family Support Network
c/o Center for Japanese-Filipino Families (CJFF)
Room 32 Japan Christian Center, Tokyo, Shinjuku-ku, Nishiwaseda 2-3-18, 169-0051 Japan
Phone/fax (81) 3 3209 2439, Email: helpzilan@yahoo.com